
Jurassic World Rebirth; Dinosaurusnya Masih Gahar, Manusianya Masih Keteteran, Tapi Serunya Balik Lagi
Jurassic World Rebirth adalah film sci-fi action Amerika tahun 2025 yang disutradarai Gareth Edwards dan ditulis David Koepp, penulis yang sebelumnya terlibat di Jurassic Park dan The Lost World: Jurassic Park. Film ini menjadi film keempat dalam lini Jurassic World sekaligus installment ketujuh dalam franchise Jurassic Park, dengan Scarlett Johansson, Mahershala Ali, Jonathan Bailey, Rupert Friend, Manuel Garcia-Rulfo, dan Ed Skrein sebagai jajaran pemain utama.
Ceritanya berlatar setelah dunia mulai tidak ramah lagi bagi dinosaurus hasil rekayasa genetik, sehingga makhluk-makhluk prasejarah yang tersisa hanya mampu bertahan di wilayah sekitar ekuator.

Sebuah tim kemudian dikirim ke fasilitas riset pulau lama untuk mengambil sampel dari tiga spesies raksasa yang dipercaya penting untuk pengembangan obat penyakit jantung, tapi tentu saja semuanya berubah jadi survival kacau begitu manusia kembali merasa terlalu pintar.
Film ini tayang perdana di London pada 17 Juni 2025 dan rilis di Amerika Serikat pada 2 Juli 2025, dengan durasi 133 menit. Secara komersial, Jurassic World Rebirth tetap meraung kencang dengan pendapatan global sekitar 872,4 juta dolar, bahkan mendapat nominasi Oscar untuk Best Visual Effects.
Kembali ke Akar Survival, Tapi Masih Pakai Formula Lama

Kali ini terasa seperti usaha sadar untuk menarik franchise ini kembali ke jalur klasik: manusia masuk ke wilayah terlarang, dinosaurus lepas kendali, lalu semua teori ilmiah dan rencana mahal langsung hancur begitu gigi raksasa muncul dari semak-semak. Setup ekspedisi farmasi untuk mengambil DNA dinosaurus memang terdengar agak maksa, tapi masih cukup fungsional sebagai alasan membawa karakter ke tempat paling berbahaya di planet ini.
Yang cukup menyegarkan, film ini tidak terlalu sibuk membawa beban karakter lama atau lore rumit dari trilogi sebelumnya. Gareth Edwards dan David Koepp lebih memilih membuat cerita standalone yang dekat dengan rasa Jurassic Park awal: penuh pulau misterius, fasilitas riset terbengkalai, dinosaurus eksperimen, dan manusia yang panik karena lagi-lagi meremehkan alam.

Namun, jangan berharap ceritanya akan benar-benar baru atau penuh kejutan besar. Banyak elemen terasa familiar, dari misi berbahaya, karakter korporat mencurigakan, keluarga yang ikut terseret bahaya, sampai adegan kejar-kejaran yang seperti remix dari momen-momen lama franchise ini.
Menurut gue, plotnya bekerja paling baik saat berhenti menjelaskan terlalu banyak dan langsung membiarkan dinosaurus mengambil alih layar. Begitu film masuk mode survival, kekurangannya di dialog dan logika cerita jadi lebih mudah dimaafkan karena kita sibuk mikir siapa yang bakal dimakan duluan.
Star Power Kuat, Tapi Kedalaman Masih Tipis

Scarlett Johansson sebagai Zora Bennett membawa aura karakter tangguh yang dingin, praktis, dan cukup meyakinkan sebagai mantan operative yang biasa hidup di zona bahaya. Kehadirannya memberi energi baru untuk franchise ini, terutama karena Zora tidak diposisikan sebagai love interest atau karakter reaktif semata, melainkan pemimpin lapangan yang memang bisa diandalkan.
Mahershala Ali sebagai Duncan Kincaid punya karisma tenang yang membuat tim ekspedisi terasa lebih berbobot, sementara Jonathan Bailey sebagai Dr. Henry Loomis memberi sentuhan nerdy, kagum, dan manusiawi di tengah misi yang serba brutal. Kombinasi mereka cukup enak ditonton karena ada keseimbangan antara otot, otak, dan rasa takut yang wajar.

Rupert Friend sebagai Martin Krebs bermain dalam zona karakter korporat oportunis yang mudah ditebak, tapi tetap efektif sebagai pemicu konflik moral. Di sisi lain, keluarga Delgado yang ikut terdampar memberi lapisan survival tambahan, walau beberapa bagiannya terasa seperti subplot wajib agar film punya korban sipil dan momen emosional.
Kelemahan paling terasa ada di penulisan karakter yang kadang terlalu tipis untuk benar-benar meninggalkan bekas. Para aktor sudah bekerja cukup keras, tapi naskah sering lebih tertarik menyiapkan set-piece dinosaurus daripada memberi percakapan yang membuat kita benar-benar peduli sedalam film pertama.
Gareth Edwards Tahu Cara Bikin Dinosaurus Terasa Besar

Kalau ada alasan utama kenapa Jurassic World Rebirth tetap layak ditonton di layar besar, jawabannya jelas visual dan skala. Gareth Edwards, yang punya pengalaman kuat dalam membangun monster berskala raksasa, berhasil membuat banyak adegan dinosaurus terasa megah, berat, dan kadang benar-benar mengancam.
Lokasi syuting di Thailand, Malta, dan Inggris membantu film ini punya rasa petualangan tropis yang lebih hidup dibanding beberapa entry sebelumnya. Hutan, air, fasilitas riset, dan lanskap pulau memberi tekstur yang membuat dunia dinosaurus terasa lebih fisik, meski tentu saja CGI masih jadi tulang punggung utama.

Desain makhluk seperti Distortus rex dan spesies raksasa lain menunjukkan film ini masih ingin bermain dengan elemen eksperimen genetik yang mengerikan. Beberapa momen visual memang terlihat sangat blockbuster dan sedikit glossy, tapi secara umum film ini lebih sukses menghadirkan rasa takut dibanding Dominion yang terlalu penuh ide tapi kurang fokus.
Nominasi Best Visual Effects juga cukup masuk akal karena film ini jelas menjual pengalaman dinosaurus sebagai atraksi utama. Bahkan saat ceritanya goyah, setiap raungan, bayangan besar, dan serangan mendadak masih punya efek “oke, ini yang gue cari dari film Jurassic.”
Seru, Familiar, dan Kadang Bodoh Tapi Tetap Efektif

Sebagai hiburan musim panas, Jurassic World Rebirth cukup berhasil memberi paket yang mudah dijual: dinosaurus besar, karakter terkenal, pulau berbahaya, aksi survival, dan beberapa adegan tegang yang memang dirancang untuk bikin penonton menahan napas. Film ini mungkin bukan comeback sempurna, tapi minimal ia mengingat lagi bahwa franchise Jurassic paling kuat saat membuat manusia terlihat kecil di hadapan alam.
Pacing 133 menitnya kadang terasa agak gemuk, terutama ketika film harus menyeimbangkan ekspedisi utama dan keluarga yang terseret bahaya. Namun saat set-piece berjalan, seperti serangan laut, pengejaran hutan, atau momen fasilitas riset, film ini cukup punya tenaga untuk membuat kita lupa sejenak bahwa alurnya tidak terlalu segar.

Respons kritiknya memang campur aduk, dengan banyak pujian untuk set-piece dan visual, tapi kritik untuk karakter tipis, dialog datar, dan rasa deja vu. Skor Metacritic berada di area mixed dengan angka 50, sementara rating IMDb sekitar 5,8, jadi jelas film ini bukan favorit semua orang.
Buat target penonton terutama yang tumbuh dengan Jurassic Park atau cuma ingin blockbuster dinosaurus tanpa ribet, film ini tetap punya daya tarik kuat. Kadang kita tidak butuh filosofi besar, cukup dinosaurus lari, manusia panik, dan musik megah yang mengingatkan bahwa nostalgia masih punya cakar.
Rebirth yang Belum Revolusioner, Tapi Cukup Menggigit
Secara keseluruhan, Jurassic World Rebirth bukan evolusi besar yang benar-benar mengubah arah franchise, tapi ia adalah langkah mundur yang justru terasa cukup sehat. Film ini kembali ke formula survival klasik, memperbaiki sebagian rasa lelah dari film sebelumnya, dan memberi beberapa adegan dinosaurus yang jauh lebih menghibur.

Kelemahannya jelas: karakter kurang dalam, plot familiar, dan beberapa motivasi terasa seperti alasan cepat agar manusia kembali masuk kandang dinosaurus. Tapi kelebihannya juga nyata: visual megah, pengarahan monster yang kuat, star power solid, dan rasa petualangan kuno yang masih menyenangkan.
Buat fans lama, ini mungkin bukan keajaiban seperti Jurassic Park 1993, tapi cukup untuk membuat franchise ini terasa punya denyut lagi. Buat penonton baru, Rebirth adalah tontonan popcorn yang aman, seru, dan penuh momen “jangan ke sana, bodoh!” yang memang selalu jadi bumbu wajib film dinosaurus.





