Review Film – Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung (2025)

Kang Solah, Spin-Off yang Akhirnya Punya Kaki Sendiri

Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung adalah film horor komedi Indonesia tahun 2025 yang disutradarai Herwin Novianto, ditulis Alim Sudio, dan diproduksi Falcon Pictures.

Film ini menjadi sempalan dari Kang Mak from Pee Mak, dengan Rigen Rakelna sebagai Solah Vincenzio, Indra Jegel sebagai Fajrul, Indro Warkop sebagai Supra, Tora Sudiro sebagai Jaka, Davina Karamoy sebagai Dara Gonzalez, Asri Welas sebagai Nenek Gayung, dan Andre Taulany sebagai Kang Mas Pusi.

Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung (2025)
Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung (2025) | © Falcon Pictures

Film ini tayang perdana di bioskop Indonesia pada 25 September 2025 dengan durasi 116 menit. Ceritanya mengikuti Solah yang pulang ke kampung bersama Fajrul, Jaka, dan Supra, tapi bukannya disambut sebagai pahlawan, ia malah dikira sudah menjadi hantu oleh warga.

Dari Adaptasi Thailand ke Urban Legend Lokal

Penyesuaian Kang Mak yang berhasil untuk pasar Indonesia jelas membuka peluang besar untuk membuat spin-off yang lebih bebas. Menariknya, film ini tidak lagi terlalu bergantung pada embel-embel Thailand dari Pee Mak, karena ia membawa Nenek Gayung sebagai urban legend lokal yang lebih dekat dengan memori horor komedi penonton Indonesia.

Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung (2025)
Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung (2025) | © Falcon Pictures

Premisnya langsung ramai: Solah pulang dari medan perang, dikira setan, patah hati karena Dara akan menikah dengan adiknya sendiri, lalu pernikahan mereka diganggu oleh Nenek Gayung yang mencari korban untuk dimandikan. Ide ini terdengar konyol, tapi justru cocok dengan tone semesta Kang Mak yang memang hidup dari cinta, salah paham, hantu, dan persahabatan yang ribut.

Cerita Lebih Lepas, Lebih Lokal, dan Lebih Berani Ngawur

Cerita film ini terasa lebih bebas dibanding Kang Mak karena tidak harus terlalu patuh pada pakem film asli Thailand. Spin-off ini berani mengembangkan cerita ke arah berbeda dengan memadukan horor adaptasi Pee Mak dan sentuhan horor lokal Nenek Gayung.

Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung (2025)
Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung (2025) | © Falcon Pictures

Yang bikin seru, film ini tidak perlu mengenalkan karakter utama baru dari nol karena Solah, Fajrul, Jaka, dan Supra sudah punya basis komedi dari film sebelumnya. Jadi penonton bisa langsung masuk ke konflik baru tanpa perlu babak panjang untuk memahami siapa mereka dan kenapa mereka bisa sekacau itu.

Kedalaman mystery-nya sebenarnya lebih seru dari dugaan karena film tidak cuma menjual Nenek Gayung sebagai hantu tempelan. Ada unsur keluarga, asal-usul, dan silsilah Kang Solah yang membuat konflik terasa lebih punya akar, bukan sekadar komedi hantu masuk kampung.

Konflik cinta Solah, Dara, dan Iqbal juga memberi lapisan drama yang cukup gampang diikuti. Solah bukan cuma karakter lucu yang pulang kampung, tapi cowok yang patah hati, kehilangan tempat, dan harus menerima bahwa kampungnya tidak lagi melihat dia sebagai manusia hidup yang layak disambut.

Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung (2025)
Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung (2025) | © Falcon Pictures

Komedi masih jadi senjata utama film ini, dan kali ini punchline-nya terasa lebih bebas karena karakter-karakternya tidak terlalu dibatasi struktur remake. Film ini konsisten menghadirkan humor absurd dan receh dari awal sampai akhir, bahkan ketika adegan horor sedang dibangun.

Rigen, Indra Jegel, Tora, dan Indro punya chemistry yang sudah terbentuk, jadi interaksi mereka sering terasa natural meski materinya sengaja konyol. Para pemeran utama tampak nyaman saling melempar guyonan, apalagi dengan tambahan Andre Taulany, Asri Welas, dan Indy Barends yang memberi warna baru. 

Horor Lebih Kental dari Kang Mak, Tapi Tetap Komedi Duluan

Film ini terasa lebih kental horornya dibanding Kang Mak, terutama lewat kehadiran Nenek Gayung sebagai ancaman utama. Asri Welas sebagai Nenek Gayung memberi bentuk hantu yang familiar secara budaya populer Indonesia, tetapi dibungkus dengan gaya parodi yang membuatnya tetap masuk ke dunia komedi.

Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung (2025)
Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung (2025) | © Falcon Pictures

Meski begitu, unsur horornya tetap bukan tipe yang mengejar teror serius sampai bikin susah tidur. Unsur horor terasa tipis dan hampir seperti topping, walau secara visual dan ide lokalnya tetap memberi atmosfer lebih gelap dibanding film sebelumnya.

Rigen Rakelna sebagai Solah akhirnya mendapat panggung utama, dan itu keputusan yang cukup berhasil karena karakternya punya energi absurd sekaligus gampang dikasih konflik emosional. Solah yang dikira hantu, kehilangan Dara, lalu harus menghadapi kutukan Nenek Gayung membuat perjalanannya lebih lengkap daripada sekadar side character lucu.

Davina Karamoy sebagai Dara juga membawa sentuhan romansa yang membuat film tidak sepenuhnya tenggelam dalam lawakan. Chemistry Rigen dan Davina sebagai salah satu magnet utama film karena interaksi mereka terasa natural, hidup, dan penuh energi.

Horor Kampung yang Lebih Berani Main CGI
Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung (2025)
Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung (2025) | © Falcon Pictures

Dari sisi produksi, film ini terlihat ingin memperluas dunia Kang Mak dengan skala yang lebih liar. Keberanian film memakai CGI, soundtrack, dan scoring yang absurd untuk mendukung kelucuan serta visual fantasi horornya.

Sinematografi Edi Santoso dan editing Ryan Purwoko membantu menjaga tone film tetap bergerak cepat. Kadang transisinya terasa terlalu ramai, tapi untuk komedi horor yang memang mengandalkan kekacauan, gaya ini masih cukup nyambung dengan energi filmnya.

Lokalitasnya Menyelamatkan Film Ini
Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung (2025)
Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung (2025) | © Falcon Pictures

Kelebihan terbesar film ini adalah keberanian melepas diri dari bayang-bayang Pee Mak dan masuk ke urban legend Indonesia. Nenek Gayung membuat film ini punya identitas lokal yang lebih kuat, sehingga spin-off ini tidak terasa cuma memperpanjang cerita Thailand versi Indonesia.

Film juga berhasil mempertahankan bumbu keluarga dan romansa yang membuat cerita tidak berubah menjadi kumpulan sketsa komedi. Persahabatan Solah, Fajrul, Jaka, dan Supra tetap menjadi pondasi, sementara konflik Dara-Iqbal-Solah memberi alasan emosional yang cukup untuk mengikuti alurnya.

Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung (2025)
Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung (2025) | © Falcon Pictures

Kekurangannya, tidak semua lelucon bekerja mulus karena beberapa bagian terasa terlalu asbun dan hampir melewati batas. Ada candaan yang terasa begitu asal bunyi sampai membuat dahi sedikit mengernyit, terutama karena jumlah guyonannya memang sangat banyak.

Selain itu, beberapa penonton mungkin merasa film ini tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru dari sisi formula. IMDb menampilkan rating sekitar 6,3 dari ratusan penilaian, dengan sebagian respons menilai film ini cukup enjoyable, tapi tidak membawa inovasi besar selain crossover lokalnya.

Spin-Off yang Lebih Indonesia dan Cukup Berhasil

Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung adalah spin-off yang cukup berhasil karena memahami bahwa kekuatan terbesarnya bukan lagi pada adaptasi Thailand, melainkan pada komedi lokal dan urban legend yang lebih dekat dengan penonton. Film ini masih membawa rasa Kang Mak, tetapi Nenek Gayung, silsilah Solah, dan konflik keluarga membuatnya punya pijakan yang lebih mandiri.

Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung (2025)
Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung (2025) | © Falcon Pictures

Kelebihannya ada pada chemistry cast, kelucuan absurd, romansa yang tetap terasa, serta visual horor yang lebih tebal dari film sebelumnya. Kekurangannya ada pada beberapa komedi yang terlalu asal, elemen horor yang masih kalah dominan dari komedi, dan formula yang belum sepenuhnya keluar dari zona aman.

Kalau kamu suka Kang Mak dan ingin melihat dunianya berkembang dengan rasa lokal yang lebih kuat, film ini layak ditonton. Ia bukan horor komedi paling rapi, tapi sebagai crossover Kang Mak dan Nenek Gayung, film ini cukup menyenangkan, kocak, dan berhasil membuka kemungkinan semesta komedi horor Indonesia yang lebih luas.



Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung – Movie Info

Scroll to Top