
Siapa Dia, Nostalgia Musikal yang “Liar” dan Penuh Estetika
Halo, para penikmat layar lebar! Kamu lagi cari tontonan yang nggak cuma sekadar menghibur, tapi juga punya “isi” dan bikin mikir?
Kalau iya, karya terbaru maestro Garin Nugroho berjudul Siapa Dia (2025) ini wajib banget masuk ke dalam watchlist akhir pekan kamu.
Sebelum kita bahas lebih dalam, mari kita intip dulu info teknis dan sinopsis singkat dari film yang sedang hangat diperbincangkan ini. Dari sutradara Garin Nugroho, Siapa Dia mengambil latar belakang sejarah awal masuknya sinema ke tanah air, membawa kita menyusuri lorong waktu saat Indonesia mulai mengenal kata “film”.

Melalui balutan musikal, kita diajak mengikuti perjalanan karakter-karakter yang mencoba mencari identitas di tengah transisi budaya dan teknologi visual yang baru lahir.
Napak Tilas Sejarah Sinema yang “Liar”
Menonton film ini rasanya seperti dibawa masuk ke dalam mesin waktu untuk melihat bagaimana kakek-nenek kita dulu pertama kali terkesima oleh proyeksi gambar bergerak. Narasinya terasa sangat liar “tentu dalam artian yang positif” karena Garin tidak ragu mengeksplorasi sisi-sisi sejarah yang mungkin jarang dibahas di buku sekolah.

Namun, jujur saja, bagi kamu yang mungkin kurang familiar dengan sejarah awal perfilman Indonesia, alurnya mungkin akan terasa sedikit membingungkan di awal. Gaya penceritaan yang penuh metafora dan puitis khas Garin Nugroho memang selalu menjadi pisau bermata dua: sangat artistik, tapi terkadang sulit dicerna secara instan.
Dibandingkan dengan karya sebelumnya seperti Puisi Cinta yang Membunuh, karakter utama di sini dibawakan dengan cara yang lebih pasif dan tidak menggebu-gebu. Pendekatan ini unik, namun bagi penonton yang terbiasa dengan drama linear yang meledak-ledak, mungkin butuh usaha ekstra untuk tetap terhubung dengan emosi karakternya.
Visual dan Musik: Sebuah Jamuan Mewah untuk Indera

Kalau bicara soal teknis, saya harus angkat jempol karena tim produksi film ini benar-benar “niat” dan tidak setengah-setengah dalam memanjakan mata penonton. Production design-nya luar biasa memukau, mulai dari pemilihan kostum yang sangat akurat secara periodisasi hingga tata rias yang detail dan estetik.
Setting lokasinya pun dibangun sedemikian rupa sehingga setiap frame terasa seperti lukisan hidup yang sangat mendukung atmosfer nostalgia tahun-tahun awal sinema. Mata kamu benar-benar akan dimanjakan sepanjang durasi film, membuat durasi yang cukup panjang pun tidak terasa membosankan secara visual.
Sektor audionya pun tak kalah juara; lagu-lagu yang dibawakan sangat easy listening dan mampu menyatu sempurna dengan narasi sejarah yang sedang dibangun. Ada beberapa lagu populer yang sengaja disisipkan, sukses membuat penonton bernostalgia sambil tersenyum tipis mengikuti irama musiknya yang hangat.
Pesona Nicholas Saputra dan Tantangan Pengembangan Karakter

Kehadiran Nicholas Saputra jelas menjadi daya tarik utama, dan ia membuktikan kualitasnya dengan memerankan dua karakter berbeda dalam garis waktu yang berbeda pula. Ia sangat lihai menanggung beban tiap periodisasi sejarah, memberikan karisma yang kuat meski dialognya mungkin tidak sebanyak film-film komersial lainnya.
Sayangnya, saking banyaknya karakter baru yang bermunculan sepanjang film, pengembangan karakter utamanya sendiri terasa sedikit terhambat dan kurang mendalam. Terkadang kita merasa baru saja ingin mengenal satu tokoh, namun cerita sudah berpindah fokus ke tokoh lain atau peristiwa sejarah berikutnya yang tak kalah penting.
Secara personal, gaya bercerita Garin yang sangat fragmentaris dan eksperimental di film ini memang terasa cukup berjarak bagi saya sebagai penonton awam. Rasanya sulit untuk benar-benar merasa “peduli” pada perjalanan hidup tiap karakternya karena transisi yang begitu cepat dan penuh dengan simbolisme.
Tidak Biasa dan Bukan untuk Semua Kalangan

Untuk memudahkan kamu memutuskan apakah film ini cocok buat kamu atau tidak, berikut adalah ringkasannya:
Poin plus dalam film salah satunya visual top notch: dari desain produksi, kostum, dan art direction kelas dunia yang sangat memanjakan mata.
Musikal yang hangat. Lagu-lagu dan scoring yang pas di telinga, memberikan rasa nostalgia yang mendalam.
Apresiasi seni, Merupakan surat cinta untuk sejarah perfilman Indonesia yang sangat jarang diangkat ke layar lebar. Performa Nicholas Saputra tetap konsisten dan mampu menjaga ritme film yang kompleks.

Poin minusnya cukup banyak, seperti; Bagi sebagian orang, cara bercerita yang penuh metafora bisa terasa membosankan atau sulit diikuti.
Banyaknya karakter pendukung membuat penonton sulit membangun kedekatan emosional dengan karakter utama. Film ini lebih merupakan “pengalaman seni” daripada sekadar hiburan ringan untuk melepas penat.
Apakah Kalian Akan Suka?

Siapa Dia adalah sebuah bentuk apresiasi seni yang indah bagi kamu yang mencintai sejarah dan ingin tahu bagaimana sinema berkembang menjadi industri besar seperti sekarang. Garin Nugroho berhasil menunjukkan bahwa sejarah tidak selamanya kaku, ia bisa tampil cantik, berirama, dan penuh dengan warna-warni musikal.
Meskipun masih ada beberapa hal yang bisa dikembangkan lebih sempurna, film ini tetaplah sebuah karya penting yang tidak boleh dilewatkan oleh para pecinta film sejati. Siapkan pikiran yang terbuka dan nikmati setiap simfoni visual yang disuguhkan, karena film seperti ini jarang muncul di bioskop kita.





