Review Film – Thunderbolts (2025)

Thunderbolts; Avengers Kelas C yang Diselamatkan Sentry dan Cast Mahal

Setelah Captain America: Brave New World rilis pada 14 Februari 2025, Marvel lanjut menutup Phase Five lewat Thunderbolts* yang tayang di Amerika Serikat pada 2 Mei 2025.

Film ini disutradarai Jake Schreier, ditulis oleh Eric Pearson dan Joanna Calo, serta dibintangi Florence Pugh, Sebastian Stan, Wyatt Russell, Hannah John-Kamen, David Harbour, Julia Louis-Dreyfus, dan Lewis Pullman.

Secara konsep, Thunderbolts* mempertemukan para antihero yang “abu-abu moralnya” untuk menghadapi jebakan Valentina Allegra de Fontaine, sebelum akhirnya konflik melebar ke proyek superhuman bernama Sentry.

Thunderbolts (2025)
Thunderbolts (2025) | © Marvel Studios

Secara keseluruhan, film ini terasa seperti proyek sampingan Marvel yang tugas utamanya: mengumpulkan karakter-karakter yang selama ini tersebar di film dan series MCU. Bukan berarti buruk total, tapi jujur aja, Thunderbolts* sering terasa seperti “Avengers versi kelas C” yang menarik karena konsekuensi MCU-nya, bukan karena ceritanya benar-benar meledak.

Proyek Sampingan Marvel yang Terasa “Ngumpulin Sisa Karakter”

Premisnya sebenarnya lumayan menarik: Yelena Belova, John Walker, Ghost, dan Taskmaster dikirim ke fasilitas rahasia O.X.E. Group dengan misi saling bunuh, lalu sadar bahwa mereka semua cuma pion untuk menghapus jejak Valentina. 

Thunderbolts (2025)
Thunderbolts (2025) | © Marvel Studios

Dari titik ini, mereka dipaksa bekerja sama, bertemu Bob alias Robert Reynolds, dan akhirnya masuk ke konflik besar yang melibatkan Sentry serta alter ego gelapnya, Void. 

Masalahnya, susunan tim ini memang terasa seperti karakter-karakter MCU yang “belum tahu mau diapain lagi.” Yelena dari Black Widow, John Walker dari The Falcon and the Winter Soldier, Ghost dari Ant-Man and the Wasp, Bucky dari saga Captain America, sampai Red Guardian dari Black Widow semuanya dibawa ke satu film.

Kalau kamu ngikutin MCU secara lengkap, koneksi emosinya bisa dapet; kalau nggak, film ini bisa terasa hambar kayak reuni orang-orang yang kamu cuma kenal dari foto profil grup WhatsApp.

Kalau Nggak Nonton Film Sebelumnya, Rasanya Bisa Hambar
Thunderbolts (2025)
Thunderbolts (2025) | © Marvel Studios

Thunderbolts* menuntut penonton punya memori MCU yang cukup panjang. Yelena masih membawa trauma kematian Natasha Romanoff, John Walker masih punya beban sebagai mantan Captain America versi pemerintah, Bucky datang dengan sejarah panjang sebagai Winter Soldier, dan Ghost baru terasa penting kalau kamu masih ingat penderitaannya sejak Ant-Man and the Wasp.

Ini bikin filmnya punya modal emosional, tapi modal itu banyak berasal dari proyek lama, bukan dari pembangunan cerita yang kuat di film ini sendiri.

Jadi sebenarnya film ini bisa jauh lebih seru kalau kamu punya investasi ke tiap karakter. Tapi kalau datang sebagai penonton kasual, beberapa momen dramanya terasa seperti “oke, harusnya gue sedih nih?”

Film ini punya tema trauma dan kesehatan mental yang cukup jelas, bahkan kritikus memuji pendekatan mental health serta performa Florence Pugh dan Lewis Pullman. Sayangnya, tidak semua karakter mendapat kedalaman yang sama, sehingga sebagian anggota tim terasa numpang lewat demi formasi “New Avengers”.

Cast Mahal Menyelamatkan Banyak Hal
Thunderbolts (2025)
Thunderbolts (2025) | © Marvel Studios

Untungnya, film ini diselamatkan oleh cast yang tahu tugasnya. Florence Pugh tetap jadi jangkar emosional sebagai Yelena, karakter yang diberi porsi kepemimpinan dan rasa kehilangan yang cukup kuat.

David Harbour juga masih menghidupkan Red Guardian sebagai figur ayah yang norak tapi hangat untuk Yelena. Sebastian Stan sebagai Bucky juga cukup solid, walau jujur perannya lebih terasa sebagai “senior yang mengatur anak-anak bermasalah” daripada pusat cerita.

Tapi bintang paling mencuri perhatian jelas Lewis Pullman sebagai Bob Reynolds / Sentry / Void. Ceritanya memang klise: antagonis berbahaya yang ternyata terluka, lalu perlahan menjadi sosok yang harus diselamatkan.

Namun karakter Sentry menarik karena konflik terbesarnya bukan cuma kekuatan super, melainkan depresi, rasa tidak layak, dan alter ego gelap bernama Void yang menyebarkan trauma ke seluruh New York. Pada titik tertentu, film ini terasa lebih seperti film Sentry dibanding film Thunderbolts, dan anehnya… itu bagian terbaiknya.

Marvel 2025 Terasa Menurun, dan Film Ini Kayak Superhero Rumahan
Thunderbolts (2025)
Thunderbolts (2025) | © Marvel Studios

Dari segi skala, Thunderbolts* memang punya set piece besar, termasuk Watchtower, fasilitas O.X.E., dan ancaman Void yang menelan New York dalam kegelapan. Tapi vibe-nya tetap terasa lebih “superhero rumahan” dibanding event besar MCU.

Setelah Captain America: Brave New World yang mengangkat konspirasi global dan Presiden Thaddeus Ross, Thunderbolts* terasa lebih kecil, lebih internal, dan lebih fokus ke terapi kelompok superhero bermasalah.

Beberapa bagian oke, terutama saat tim masuk ke ruang trauma Bob dan menghadapi memori-memori buruk yang membentuk Void. Tapi detail dunia dan konsekuensinya kurang nempel. 

Film ini punya budget $180 juta dan meraup $382,4 juta, tetapi disebut underperform di box office. Angka itu cukup menggambarkan rasanya: tidak gagal total, tapi juga bukan kemenangan besar yang bikin penonton keluar bioskop sambil teriak “MCU is back!”.

Wajib Ditonton Kalau Takut Ketinggalan MCU, Tapi Bukan Wajib Banget
Thunderbolts (2025)
Thunderbolts (2025) | © Marvel Studios

Alasan paling kuat menonton Thunderbolts* adalah supaya nggak ketinggalan sequence MCU. Film ini adalah film ke-36 MCU dan penutup Phase Five, jadi secara kronologi jelas penting.

Apalagi twist judul asterisk-nya baru dijelaskan di akhir: Thunderbolts direbranding menjadi New Avengers, bahkan title card berubah menjadi The New Avengers saat end credits.

Tapi kalau kamu kelewat film ini, hidupmu sebagai penonton Marvel mungkin nggak langsung hancur. Secara hiburan, ini cukup asyik. Secara emosi, lumayan. Secara impact, penting tapi belum mengguncang. Ini lebih seperti jembatan, bukan destinasi utama.

Misteri Banyak, Tapi Ini Film Sentry Banget
Thunderbolts (2025)
Thunderbolts (2025) | © Marvel Studios

Ending-nya cukup seru karena Valentina berhasil memelintir persepsi publik dan memperkenalkan tim ini sebagai New Avengers, sementara Yelena memberi ancaman balik dengan kalimat, “We own you now.” 

Post-credit scene berlatar 14 bulan kemudian menampilkan konflik trademark dengan tim Avengers Sam Wilson, sekaligus kedatangan pesawat ekstra-dimensional berlogo angka “4”, yang jelas menggoda koneksi ke proyek Fantastic Four. 

Sebagai penutup, ini efektif bikin penasaran. Tapi sebagai konklusi film Thunderbolts, rasanya agak lucu karena highlight emosional terbesar justru milik Bob/Sentry. Jadi ya, Thunderbolts* adalah film tim antihero yang diam-diam dicuri oleh satu karakter baru.

Thunderbolts (2025)
Thunderbolts (2025) | © Marvel Studios

Thunderbolts* bukan film Marvel yang buruk, tapi juga bukan penyelamat MCU. Ia punya cast kuat, tema trauma yang menarik, dan Sentry yang mencuri panggung. Namun sebagai film tim, banyak karakter terasa kurang digali dan ceritanya seperti proyek transisi menuju New Avengers.

Seru sebagai selingan MCU, penting buat timeline, tapi kalau dibilang memorable? Hmm… setelah credits selesai, yang paling kebayang cuma satu: Bob lebih menarik daripada seluruh timnya.



Thunderbolts* – Movie Info

Scroll to Top