Review Series – Agatha All Along (2024)

Agatha All Along, Marvel Rasa Witchy Road Trip yang Dark, Campy, dan Surprisingly Emosional

Agatha All Along adalah spin-off yang masuk ke lorong lebih gelap: penyihir, kutukan, kematian, trauma, dan road trip magis yang rasanya seperti Hocus Pocus ketemu terapi kelompok supernatural.

Series Disney+ tahun 2024 ini dibuat dan dipimpin oleh Jac Schaeffer, berisi 9 episode, tayang dari 18 September sampai 30 Oktober 2024, dan menjadi bagian dari Phase Five MCU.

Series ini kembali membawa Kathryn Hahn sebagai Agatha Harkness, ditemani Joe Locke, Aubrey Plaza, Patti LuPone, Sasheer Zamata, Ali Ahn, Debra Jo Rupp, dan beberapa wajah lama dari Westview. 

Secara respons, series ini mendapat ulasan positif, terutama untuk performa Hahn, Locke, LuPone, dan Plaza, plus twist cerita, pengembangan karakter, dan tema queer yang cukup berani untuk ukuran MCU.

Agatha All Along (2024)
Agatha All Along (2024) | © Disney Plus

Ceritanya dimulai tiga tahun setelah Agatha dikunci dalam mantra Wanda di Westview, hidup sebagai “Agnes O’Connor” dalam realitas palsu bernuansa crime noir. Ia dibebaskan oleh remaja misterius yang ingin menempuh Witches’ Road, jalur legendaris yang konon memberi hadiah pada penyihir yang mampu bertahan sampai akhir. 

Premisnya simpel tapi menarik: Agatha kehilangan kekuatan, lalu harus membentuk coven baru untuk membuka jalan tersebut. Dari sini, setiap trial di Witches’ Road menjadi semacam “escape room emosional” yang menguji trauma, rahasia, dan dosa masing-masing karakter.

Kathryn Hahn benar-benar menggendong series ini dengan gaya yang susah ditiru. Agatha bisa sarkastik, manipulatif, kejam, lucu, dan menyedihkan dalam satu adegan yang sama, seolah dia tahu dirinya toxic tapi terlalu pintar untuk merasa bersalah secara normal. 

Agatha All Along (2024)
Agatha All Along (2024) | © Disney Plus

Yang bikin Agatha menarik adalah series ini tidak memaksa dia jadi “baik” secara instan. Ia tetap oportunis, tetap berbahaya, tetap punya kebiasaan mengorbankan orang lain, tapi perlahan kita melihat luka terdalamnya: kehilangan Nicholas Scratch dan ketakutannya menghadapi apa yang menunggu setelah kematian.

Karakter Teen yang diperankan Joe Locke awalnya tampak seperti fanboy witchcraft yang terlalu semangat ikut Agatha. Tapi ketika identitasnya terungkap sebagai Billy Maximoff yang hidup dalam tubuh William Kaplan, series ini langsung terasa lebih penting untuk kelanjutan sisi magis MCU.

Twist ini bekerja bukan hanya sebagai fan service, tapi juga sebagai drama identitas. Billy bukan sekadar “anak Wanda muncul lagi”, melainkan remaja yang hidup dengan memori, tubuh, dan jiwa yang saling bertabrakan, lalu memakai Witches’ Road untuk mencari Tommy. 

Kumpulan Penyihir Bermasalah yang Justru Bikin Cerita Hidup
Agatha All Along (2024)
Agatha All Along (2024) | © Disney Plus

Kekuatan terbesar Agatha All Along ada pada coven-nya. Jennifer Kale, Alice Wu-Gulliver, Lilia Calderu, Sharon Davis, dan Rio Vidal membawa warna berbeda, dari potions expert yang kekuatannya terikat, mantan polisi dengan kutukan keluarga, sampai penyihir tua yang mengalami waktu secara tidak linear.

Patti LuPone sebagai Lilia adalah highlight besar, terutama di episode “Death’s Hand in Mine” yang memainkan struktur waktu secara emosional dan cerdas. Episode itu terasa seperti bukti bahwa MCU bisa kuat tanpa ledakan besar, cukup dengan karakter, tarot, dan keputusan tragis yang bikin dada agak berat.

Agatha All Along (2024)
Agatha All Along (2024) | © Disney Plus

Aubrey Plaza sebagai Rio Vidal membawa energi yang liar, menggoda, dan mengancam sekaligus. Ketika terungkap bahwa Rio adalah personifikasi Death, hubungan masa lalunya dengan Agatha membuat series ini punya lapisan emosional yang lebih tajam.

Chemistry Agatha dan Rio terasa seperti dua mantan yang belum selesai, tapi versi mereka melibatkan sihir, dendam, kematian, dan luka yang sudah berumur ratusan tahun. Ini bukan sekadar dynamic “musuh lama”, tapi relasi yang terasa personal, pahit, dan agak beracun dalam cara yang sangat menarik untuk ditonton.

Budget Lebih Kecil, Tapi Identitasnya Kuat
Agatha All Along (2024)
Agatha All Along (2024) | © Disney Plus

Menariknya, Agatha All Along disebut sebagai salah satu series Marvel dengan biaya lebih rendah, bahkan di bawah US$40 juta, dan itu justru terasa sebagai berkah kreatif. Karena tidak bergantung penuh pada CGI besar-besaran, series ini lebih banyak memakai set, kostum, lighting, dan atmosfer praktikal untuk membangun rasa witchy yang khas.

Setiap trial punya identitas visual sendiri, dari coastal house, studio musik 70-an, kabin 80-an, sampai castle tarot yang teatrikal. Memang tidak selalu terlihat “mahal” seperti proyek MCU besar, tapi gayanya konsisten dan lebih memorable daripada banyak visual superhero generik.

Campy, Gelap, dan Tidak untuk Semua Fans Marvel
Agatha All Along (2024)
Agatha All Along (2024) | © Disney Plus

Sebagai hiburan, series ini cukup fun kalau kamu suka fantasi gelap, humor sinis, misteri identitas, dan karakter perempuan yang mulutnya tajam seperti pisau dapur. Tapi kalau kamu datang mencari aksi superhero klasik, cameo Avengers, atau koneksi besar ke multiverse, mungkin kamu akan merasa series ini terlalu kecil dan terlalu “witch drama”.

Justru di situlah pesonanya. Agatha All Along berani jadi dirinya sendiri: bukan series penyelamat universe, tapi cerita tentang coven gagal, trauma, kematian, dan orang-orang rusak yang saling membutuhkan walau tidak semuanya pantas dipercaya.

Twist Berani dan Ending yang Lebih Emosional daripada Ekspektasi
Agatha All Along (2024)
Agatha All Along (2024) | © Disney Plus

Final dua episode mengungkap bahwa Witches’ Road sebenarnya tidak pernah nyata sampai Billy menciptakannya dengan kekuatannya sendiri. Ini twist yang cukup gila karena mengubah cara kita melihat semua trial sebelumnya: bukan sekadar legenda penyihir, tapi manifestasi kekuatan Billy yang secara tidak sadar memberi bentuk pada mitos yang Agatha pakai selama berabad-abad untuk menipu coven lain.

Agatha akhirnya mati setelah mencium Rio, lalu kembali sebagai ghost yang mendampingi Billy dalam pencarian Tommy. Ending ini tidak klise “semua baik-baik saja”, tapi terasa pas: Agatha tetap belum sepenuhnya ditebus, Billy tetap dihantui rasa bersalah, dan perjalanan mereka justru baru mulai.

Agatha All Along (2024)
Agatha All Along (2024) | © Disney Plus

Agatha All Along adalah salah satu series Marvel paling unik setelah WandaVision: lebih kecil, lebih gelap, lebih campy, tapi punya karakter yang kuat dan twist yang cukup berani. Kathryn Hahn luar biasa, Joe Locke memberi energi baru, Patti LuPone mencuri hati, dan Aubrey Plaza membuat sisi mistis MCU terasa lebih menggigit. 

Tidak semua orang akan cocok, tapi kalau kamu suka Marvel yang berani keluar dari formula superhero biasa, Agatha All Along adalah perjalanan penyihir yang lucu, kelam, emosional, dan diam-diam lebih punya jiwa daripada banyak proyek MCU yang skalanya jauh lebih besar.

Logo Disney Plus


Hawkeye S1 – Series Info

Scroll to Top