
First Love; sebuah drama manis tentang perjalanan cinta pertama yang terinspirasi dari sebuah lagu.
Cinta pertama selalu memiliki tempat istimewa dalam hati. Ia tak hanya tentang perasaan yang menggetarkan jiwa, tetapi juga tentang kenangan yang tertanam begitu dalam, hingga waktu pun sulit menghapusnya.
Bagi banyak orang, cinta pertama adalah awal dari perjalanan emosional yang kompleks, dipenuhi oleh kebahagiaan sederhana sekaligus kesedihan yang tak terelakkan. Inilah kisah yang ingin dihidupkan dalam drama First Love (2022), sebuah cerita yang tak hanya menampilkan romansa biasa, tetapi juga mengajak penonton untuk meresapi perjalanan cinta yang begitu menyentuh hati.
First Love membawa penonton pada sebuah perjalanan cinta yang melintasi waktu, dari masa muda yang penuh harapan hingga dewasa yang dipenuhi realitas hidup. Cerita ini mengikuti kehidupan dua tokoh utama, Yae Noguchi (Hikari Mitsushima) dan Harumichi Namiki (Takeru Satoh), yang dipertemukan oleh takdir di masa remaja mereka.

Noguchi Yae, seorang gadis penuh mimpi yang bercita-cita menjadi pramugari, adalah sosok yang ceria dan ambisius. Sementara itu, Harumichi Namiki adalah seorang pemuda dengan jiwa pemberani yang bercita-cita menjadi pilot tentara Jepang.
Keduanya terhubung dalam ikatan yang kuat, di mana cinta pertama mereka tumbuh dan berkembang di tengah kebahagiaan masa muda. Namun, seperti halnya cinta pertama pada umumnya, hubungan mereka tidak selalu berjalan mulus.
Kehidupan dewasa membawa mereka pada jalan yang berbeda, memisahkan mereka secara fisik dan emosional. Meski demikian, bayangan masa lalu dan kenangan cinta pertama mereka tetap melekat, menjadi pengingat akan hubungan yang pernah begitu berarti.
Kisah cinta manis, penuh nostalgia masa muda

Serial ini dibangun dalam dua garis waktu utama, masa lalu dan masa kini. Nostalgia masa muda, ketika penonton diajak menyelami awal mula pertemuan Yae dan Namiki. Serangkaian takdir membuat mereka kerap bertemu, namun ceritanya sendiri tidak dikemas layaknya sebuah drama murah yang menghilangkan chemistry manis di antara keduanya.
Meski First Love menemui banyak kebetulan-kebetulan yang tidak mungkin terjadi–jika kita mengutamakan logika–tapi Yae dan Namiki selalu berusaha agar mereka bisa saling menemukan hingga akhirnya bersama. Sayangnya, cinta pertama sering ditakdirkan untuk berakhir tragis.
Tidak hanya berhenti pada kisah cinta, First Love juga menggambarkan bagaimana kehidupan dapat mengubah impian, memisahkan orang-orang yang kita cintai, dan menantang kita untuk berdamai dengan masa lalu.

Drama ini tidak terburu-buru dalam menyampaikan pesannya, melainkan membiarkan penonton menikmati setiap momen, menyerap emosi yang ditampilkan dengan mendalam. Dengan alur yang perlahan namun penuh makna, First Love mengingatkan bahwa meskipun cinta pertama seringkali berakhir dengan perpisahan, ia tetap meninggalkan bekas yang tak tergantikan dalam hidup kita.
Sinematografi yang menghipnotis
Selain jalan cerita yang mengharukan dan penuh drama, First Love juga tampil dengan mempesona lewat visualisasi yang dihadirkan oleh sang kreator, Yuri Kanchiku. Drama ini memanfaatkan berbagai lokasi di Jepang sebagai latar cerita, menampilkan keindahan yang begitu memukau, mulai dari lanskap alam menawan hingga hiruk-pikuk suasana perkotaan.
Setiap lokasi dirancang agar tidak hanya menjadi latar fisik, tetapi juga elemen penting dalam membangun suasana dan emosi cerita. Keindahan ini terlihat jelas dalam adegan-adegan yang berlokasi di Hokkaido, di mana pemandangan bersalju mendominasi, menciptakan nuansa hening dan kerinduan yang mendalam.

Elemen visual dalam First Love seakan dirancang dengan sangat hati-hati, memastikan setiap detail memiliki makna lebih dari sekadar estetika. Pemandangan alam yang menakjubkan dan sinematografi yang penuh perhatian berperan penting dalam menghidupkan emosi.
Saat para tokoh mengenang masa lalu, adegan tersebut seringkali dihiasi dengan filter hangat yang memberikan kesan nostalgia, mengundang penonton untuk turut larut dalam kenangan indah yang dibangun oleh cerita.
Sebaliknya, pada momen-momen yang menggambarkan kesedihan dan patah hati, penggunaan warna dingin dan pencahayaan redup menciptakan suasana yang lebih suram, memperkuat rasa kehilangan dan kehampaan yang dirasakan para tokoh.
Dengan pendekatan ini, tentu saja setiap episode dalam serial First Love terasa lebih hidup, seolah mengundang penonton untuk tidak hanya menyaksikan, tetapi juga merasakan setiap perjalanan emosional yang dialami oleh para karakter.
Tempo perlahan dengan cerita non-linear

Salah satu hal yang mungkin tidak terlalu menyenangkan dalam drama First Love adalah ketika ada bagian-bagian tertentu yang terasa terlalu lambat sehingga terkesan bertele-tele, sementara bagian lainnya berjalan terlalu cepat, seolah melewatkan momen penting yang seharusnya mendapat perhatian lebih.
Beberapa adegan juga dianggap kurang relevan terhadap keseluruhan narasi, seperti adegan karaoke atau hubungan keluarga Harumichi yang tidak banyak memberikan kontribusi pada cerita utama.
Narasi non-linear yang digunakan dalam drama ini sebenarnya menjadi salah satu daya tarik, karena memungkinkan penonton untuk melihat perjalanan cinta para tokoh dari berbagai sudut waktu.
Namun, bagi sebagian orang, pendekatan ini agaknya terasa membingungkan dan sulit diikuti. Perpindahan yang sering antara masa lalu dan masa kini kadang-kadang membuat penonton kehilangan orientasi, sehingga sulit untuk sepenuhnya terhubung dengan perjalanan emosional para karakter.

Meski demikian, masalah dengan narasi non-linear ini berhasil diatasi berkat penyuntingan yang sangat mulus. Transisi antar waktu dirancang dengan cermat sehingga penonton tetap dapat mengikuti cerita meskipun terus-menerus berpindah dari satu periode ke periode lainnya.
Penyuntingan ini tidak hanya membantu menjaga alur cerita tetap kohesif tetapi juga memastikan bahwa setiap momen emosional memiliki dampak yang maksimal. Dengan begitu, First Love masih bisa menyajikan cerita yang kompleks namun tetap dapat dinikmati.
Kesimpulan
First Love bukanlah sebuah serial drama yang akan membuatmu terus menangis meratapi kesedihan masa cinta pertama. Bahagia dan kepedihan dalam drama ini seakan dijaga dengan seimbang, sehingga penonton tidak terlalu larut menangis ataupun tersenyum bahagia ketika beberapa momen ditampilkan.
First Love bukan hanya sekedar cerita cinta, tetapi juga sebuah perjalanan yang menggambarkan bagaimana waktu, kenangan, dan harapan berperan dalam membentuk siapa kita. Drama ini mengajak penonton untuk mengenang kembali cinta pertama yang pernah kita miliki, dengan segala manis dan pahitnya.
Melalui cerita Noguchi Yae dan Harumichi Namiki, kita seakan diajak bertanya-tanya: apakah cinta pertama benar-benar tidak pernah terlupakan?
where to watch: netflix





